Oleh Heppy Ratna Sari *
www.indomedia.com/poskup/2006/11/15/edisi15/1511hal02.pdf

SUMPAH Pemuda telah berusia 78 tahun. Meski masih
diperingati setiap tahun, semakin lama generasi muda semakin
acuh dengan peristiwa bersejarah ini.
Hanya beberapa kelompok saja, seperti pegawai pemerintah,
politikus, sejarawan, negarawan dan sejumlah orang yang masih
mengingat sejarah itu dengan baik yang masih
melakukan upacara peringatan perjuangan pemuda itu.
Gelora Sumpah Pemuda sepertinya mulai
menghilang di hati sebagian generasi muda Indonesia saat
ini. Mereka tidak hanya lupa kapan peristiwa itu terjadi,
tetapi juga isi dari sumpah yang mempersatukan bangsa
Indonesia tersebut.
Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, generasi muda
Jakarta seakan tidak lagi mempedulikan makna Sumpah
Pemuda. Mereka disibukkan dengan berbagai aktifitas
hiburan seperti berbelanja, bermain di pusat-pusat
permainan atau sekedar duduk-duduk dan bersenda
gurau di gerai-gerai makanan.
“Hari ini hari Sabtu, sudah jadi langganan bagi kami
berenam untuk jalan-jalan di kafe atau sekadar
memuaskan nafsu ‘lapar mata’,” kata Winda, seorang
siswi SMU negeri di Jakarta.
Ia bahkan sempat berpikir sejenak ketika mengingat
tanggal hari ini (28/10). “OK, ini tanggal 28 Oktober, apa
ada yang aneh. Ini kan akhir Minggu dan saat ini masih
libur sekolah,” katanya sambil meninggikan alisnya.
Setelah berpikir sejenak, gadis berkacamata ini akhirnya
menyadari makna tanggal 28 Oktober.
“Oh iya, hari inikanperingatan Sumpah Pemuda.
Kita lupa, maklum karena liburan sekolah jadi tidak ingat.
Biasanya, kalau di sekolah selalu ada guru yang
mengingatkan untuk melakukan upacara,” ujarnya
sambil membenahi posisi duduknya.
Baginya, peringatan Sumpah Pemuda adalah sebuah
rutinitas tahunan. Ia hanya memaknainya tak lebih hanya sebagai
sebuah peringatan saja. “Sumpah Pemuda kan sudah diajarkan
dalam mata pelajaran sejarah. Jujur, saya pribadi merasa tidak
terbebani dengan adanya Sumpah Pemuda. Itu kandulu, kalau
sekarang sudah berbeda. Jadi kalau ditanya apa masih peduli,
susah juga menjawabnya,” katanya.
Lebih dari setengah abad peringatan hari di mana
diikrarkannya pengakuan bertumpah darah yang satu, tanah
Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia dan
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Namun, kini
ikrar tersebut hanya menjadi wacana yang harus dihafal oleh
sebagian generasi muda.
Namun, setiap individu memiliki hak untuk memaknai
Sumpah Pemuda. Bagi Winda, Sumpah Pemuda hanyalah sebuah
peringatan kenegaraan yang wajib dilakukan, tetapi bagi seorang
pekerja seni Tommy Kurniawan, ini adalah sebuah momen-
tum bagi generasi muda untuk mawas diri.
“Generasi muda saat ini sebenarnya cukup solid, rasa
persaudaraannya dan kepedulian yang tinggi. Hanya saja me-
reka memanfaatkannya untuk kegiatan yang mereka suka dan
tidak diarahkan untuk kegiatan yang bersifat sosial,” ujarnya.
Ia mengatakan sebagian generasi muda saat ini
cenderung acuh tak acuh terhadap kondisi sosial negara dan
memiliki nasionalisme yang kurang.
“Saya rasa masih bisa diarahkan, karena sebenarnya
mereka adalah anak-anak yang baik dan berpotensi. Hanya
saja wadah untuk kegiatan mereka lebih banyak untuk
bersenang-senang,” kata artis yang lahir di tahun 1984 ini.
Bukan hal yang tidak mungkin bagi generasi muda saat ini
untuk kembali memiliki semangat nasionalisme yang tinggi,
katanya.
Tinggal sejarah
Bagi penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka,
Hasan Nasbi, kaum muda merupakan bagian dari kultur
dunia yang saat ini dikendalikan oleh konsumsi dan hiburan.
Mungkin selebriti sudah menjadi salah satu kiblat figur kaum
muda saat ini. Jika demikian, sulit menghalangi mereka untuk
tidak meniru dan melakukan imitasi, katanya
“Menurut saya, jangan-jangan menjadi ganteng atau cantik,
terkenal, banyak uang, banyak penggemar, dan nongol di teve
adalah idealitas kaum muda saat ini. Setiap varian hidup
sebenarnya sah-sah saja. Namun, seperti kata Muhammad,
manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi
manusia lain,” katanya.
Ia berpendapat kondisi kaum muda saat ini mengece-
wakan. Menurut dia, sebagian besar kaum muda adalah para
pengikut arus zaman yang setia. “Apapun arus zaman, maka
sebagian besar gerbongnya diisi kaum muda, tanpa peduli
arus itu membawa kebaikan atau tidak. Sebagian besar
kaum muda mengalami apa yang disebut sebagai ‘poverty
of philosphy’, miskin filsafat hidup. Jangan-jangan ini karena
kita juga tidak terbiasa belajar filsafat,” kata pria yang suka
menulis sejak SMA ini.
Ia membenarkan jika semangat Sumpah Pemuda di
hati generasi muda hampir mati. Secara pribadi ia mengakui
tidak lagi merasakan semangat Sumpah Pemuda.
“Padahal saya adalah pembaca dan peminat sejarah
Indonesia. Bagaimana dengan pemuda yang tidak membaca
sejarah? Mungkin mereka akan lebih jauh lagi dari spirit
Sumpah Pemuda. Atau jangan-jangan juga tidak tahu butir-
butir kesepakatan pemuda waktu itu?,” katanya.
Sumpah Pemuda adalah sebuah prestasi gemilang
anak-anak muda Hindia Belanda saat itu, katanya. Pada
masa itu, seluruh pelaku Sumpah Pemuda adalah aktivis
pergerakan. Namun saat ini, aktivis pergerakan tidak lagi
berfikir untuk Indonesia.
“Mereka ‘menjual’ gerakan untuk karir politik dan
sudah pula membiasakan diri dengan kotornya kehidupan
para politisi senior. Pola ‘patron-client’ dalam kehidupan aktifis
pergerakan telah membunuh semangat kaum muda untuk
berfikir tentang Indonesia,” kata pria yang pernah bekerja sebagai
sekretaris penulis buku biografi Tan Malaka, Dr. Harry Poeze.
Ia juga mengatakan sulit membayangkan aktivis muda saat
ini berkumpul dan membahas tentang ke-Indonesiaan dan
merencanakan sesuatu untuk Indonesia. Mungkin Sumpah
Pemuda benar-benar telah menjadi sejarah. Ia tinggal dalam
catatan dan buku pelajaran.
“Indikatornya gampang. Saat Indonesia terkoyak oleh
disintegrasi sosial seperti di konflik di Poso, dan disintegrasi
nasional seperti di Aceh dan Papua, kemana para pemuda kita?
Pemuda kita (termasuk saya) berkutat untuk hidup, menjadi
sukses, kaya, dan punya kehidupan pribadi bahagia,” katanya. ***
* Penulis, wartawan Kantor Berita Antara