Ibu, Takkan Ada yang Sia-sia

Ibu

Tak akan ada yang sia-sia

Darahmu saat melahirkanku sudah menganak sungai dalam tubuhku

Tangis putus asamu saat kita lapar menjadi cambuk pemacu semangatku

Doa dan harapanmu adalah kendaraan untuk mencapai cita-citaku

 

Ibu

Akan kubuktikan pada dunia

Bahwa tak sia-sia kau melahirkanku

Akan kutaklukkan dunia

Dan kupersembahkan kepadamu

 

Ibu

Jangan lupakan derita kita dulu

Tapi hapus segera air matamu

Akan kujadikan dunia

Bersujud memujamu

 

Ibu

Meski kini kau sudah renta

Tapi kau tetap luar biasa

Herkules dan Samson pun tak akan bisa

Mengaku yang paling perkasa

Ibuku yang paling digdaya

 

Ibu

Malam ini dadaku buncah

Esok hari aku harus berdiri gagah

Menapaki awal jalanku

Untuk menaklukkan dunia

 

Ibu

Tatap mataku

Hapus air matamu

Buka bibirmu

Mekarkan senyummu

 

Ibu

Katakan pada dunia..

Aku anakmu..

Aku puteramu..

 

 

Depok, 4 Mei 2008

 

 

Add comment June 11, 2008

Operator Kuprit!!!

Pernahkah anda mengalami kesulitan melakukan hubungan seluler dalam beberapa bulan terakhir? Atau pada waktu-waktu tertentu seperti Pk. 17-22? Ataukah hanya saya? Sialan!! banyak sekali pekerjaan yang terkendala gara-gara ni HaPe kaga bisa nyambung ke HaPe lain. Apalagi saat ada project yang melibatkan staf sangat banyak..bayangkan kekesalan dan kebetean kita yg nelpon..bisa berantakan tuh kerjaan. Dasar operator sialan..

Awalnya kukira ini hanya faktor cuaca..tetapi kok dah lebih dari sebulan penyakitnya masih sama. Aku pake Matrix dan pake Telkomsel secara bersamaan. Dua-duanya kuprit banget. Kalau mau nelpon..harus berkali-kali sambil menyebutkan semua nama binatang yang ada di ragunan. Jawabannya sama, “telepon yang anda tuju sedang sibuk”..lha..masa semua telepon sibuk.?? Aku coba menelepon nomorku yang lain. Jarak antara dua HP itu ga sampai 50 cm..trus di seberang sana ada jawaban “telepon yang anda tuju sedang sibuk”…huh.. sibuk pale lu peang..lha itu khan Hp lg kaga dipake tolol!! Kalau mau nelpon..harus diulang berkali-kali sambil mengumpat…kalo dah abis semua stok nama di kebun binatang ragunan yang kita sebut..baru bisa nyambung tuh telpon….

Ada apa ini? apakah karena perang tarif murah lalu kenyamanan pengguna seluler harus dikorbankan??Pasti bukan karena jalurnya sibuk..tetapi karen untuk membatasi penggunaan telepon yang dijanjikan tarifnya murah itu..lha kalo ga bisa dipake..ga jadi dapat yg murah khan??

Apa yang harus dilakukan??Kepala gw dah mulai panas nih..masa tiap hari harus memaki-maki?? Apakah gw harus siapkan bensin trus membakar gedung Indosat ama Gedung Telkomsel?? Ada yg mau gabung?? Gw beneran..mau memberi pelajaran sama penyelenggara seluler itu..dasar Mo…t!!!

Kita, konsumen di Indonesia ini terlalu baik…ga pernah protes dengan layanan perusahaan yang seenak udelnya itu…ayo berhenti jadi orang baik…!!!

Add comment April 10, 2008

MARI BELAJAR MADILOG![1]

KETERBELAKANGAN BERPIKIR

Ketika bencana alam tidak henti-hentinya melanda Indonesia, banyak orang yang frustasi. Mereka kemudian melarikan diri dan akal ke dunia metafisika, berharap jawaban datang dari dunia gaib. Penyebab bencana alam ini kemudian dicari-cari ke dunia antah-berantah. Akhirnya, jalan keluar yang ditawarkan pun tidak lagi masuk di akal.

            Pernah seorang anggota DPR RI, yang mengaku dirinya sebagai paranormal serta selalu berpakaian hitam-hitam, menyarankan agar presiden diruwat. Menurut anggapan banyak orang yang percaya dengan mistik kejawen, Presiden dianggap memiliki aura kotor sehingga harus dibersihkan secara spritual, agar negeri ini lepas dari bencana alam.

            Entah kenapa, mungkin karena saking percaya dengan mistik ruwat-ruwatan itu, atau mungkin karena benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, beberapa orang di Solo ahirnya melakukan ritual ruwatan “jarak jauh” bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hasilnya, bencana alam ternyata tidak berhenti sama sekali. Para pecinta dunia gaib menggigit mulut. “ Pasti ada syarat ruwatan yang kurang”, begitu pikir mereka.

            Di lain waktu, di awal tahun 2008, hampir seluruh stasiun televisi di negeri ini menayangkan berbagai ramalan dari beberapa orang yang menyebut diri mereka sebagai cenayang, penghubung manusia dengan dunia gaib. Mata dan telinga mereka dianggap bisa berkumunikasi dengan informan dari dunia halus. Informasi dari dunia yang tidak pernah bisa diverifikasi oleh ilmu pengetahuan itu kemudian dijadikan acuan untuk menjalani tahun baru.

Seorang paranormal tua bertampang bule, pada awal tahun 2008, meramalkan akan ada bekas orang besar dan sangat berpengaruh yang meninggal dunia. Alhasil, pada tanggal 5 Januari 2008, presiden kedua RI, Soeharto, masuk rumah sakit. Dua minggu kemudian, manusia bergelar Bapak Pembangunan itu meninggal dunia.

Plok..plok..tepuk tangan para pecinta dunia gaib menggema. Tebakan Mama Lauren benar-benar hebat. Berarti informan gaib Mama Lauren jauh lebih hebat daripada informan paranormal lain yang sering tidak akurat. Mereka lupa, bahwa tebakan bersayap ala Mama Lauren bisa disampaikan setiap tahun tanpa informan dari alam lain, dan kemungkinan besar benar. Sebab, setiap tahun hampir selalu ada bekas orang besar dan berpengaruh yang meninggal dunia. Ini logis, sebab bekas orang besar dan berpengaruh biasanya sudah berusia sangat lanjut dan pasti dekat dengan ajal

            Cerita di atas adalah dua contoh saja dari puluhan ribu contoh keterbelakangan berfikir bangsa Indonesia. Bukti bahwa akal bangsa Indonesia masih berkabut, diselimuti kegelapan mistik dan kegaiban. Mungkin itu pula sebabnya bangsa ini sulit bangkit dari keterpurukan.

 

MADILOG   

Puluhan tahun silam, tepatnya pada tanggal 15 Juli 1942, di sebuah gubuk reot di daerah Kalibata, seorang pejuang senior mulai berkutat dengan kertas dan tulisan yang sangat kecil-kecil. Saking kecilnya, tulisan yang dia buat hanya bisa ia baca sendiri. Bahkan, kertas tulisan itu bisa dilipat menjadi alas kaki meja. Hal itu semata-mata untuk menjaga kerahasiaan harta berharganya dari incaran mata-mata jepang.

             Selama lebih kurang 8 bulan ia menulis tentang cara berfikir yang seharusnya dijalankan oleh bangsa Indonesia jika ingin mencapai kesejahteraan dan kemajuan. Ia menulis setiap hari meskipun dalam keadaan lapar.

Pria yang berumur hampir 50 tahun ini sebenarnya berada dalam kondisi yang amat miskin. Kesehatannya pun tidak terlalu baik. Oleh sebab itu, ia hanya mampu menulis sekitar tiga jam sehari. Lebih jauh lagi, dia tidak punya cukup uang untuk membeli buku referensi agar tulisannya lebih berkualitas.

            Laki-laki itu adalah Tan Malaka, lengkapnya Ibrahim Gelar Datuak Tan Malaka. Seorang yang lebih dari 20 tahun sebelumnya berada dalam pembuangan  jauh dari negeri yang dicintainya. Namanya, Tan Malaka atau Ibrahim, sudah dua dasawarsa tidak pernah lagi digunakan. Telinganya tidak pernah mendengar orang memanggilnya dengan nama sebenarnya. Ia lebih terbiasa dengan nama Ong Son Lee, Elias Fuentes, Husein, dan masih banyak nama samaran lainnya.

Tan Malaka meninggalkan Pulau Tumasik, menyelundup masuk ke Indonesia karena membaca tanda-tanda kekalahan Belanda dalam perang perang melawan Jepang, awal 1942. Dari Singapura, ia menaiki kapal kayu menyeberang ke Sumatera. Padahal, jika menuruti akal sehat, Tan Malaka seharusnya sudah puas dengan kehidupan yang nyaman di Singapura sambil mengajar di sebuah sekolah Cina tingkat lanjutan.

Namun, panggilan tanah air tidak kuasa ditolak oleh Tan Malaka. Kalibata adalah labuhan awal tokoh legenda ini untuk menyusun kembali perjuangannya. Sekembalinya ke Indonesia, keprihatinan Tan Malaka sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia harus mulai kembai berjuang untuk membebaskan rakyat Hindia Belanda dari dua hal, yaitu penjajahan  Belanda dan sekaligus juga membebaskan mereka dari kegelapan mistik bangsa timur.

Itulah yang menyebabkan Tan Malaka menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Sebuah mahakarya penting yang diwariskannya bagi anak bangsa. Madilog ditulis untuk mengubah bangsa Indonesia dari alam mistik dan kegaiban ke alam yang terang-benderang berdasarkan ilmu pengetahuan.

Madilog ditulis bukan untuk dihapalkan, melainkan untuk diamalkan sebagai senjata berfikir. Bagi orang yang serius mempelajari filsafat, mungkin akan menemukan banyak kekurangan dan kekeliruan dalam Madilog. Namun, itu tidak mengurangi pentingnya arti Madilog bagi kehidupan bangsa Indonesia. Sebab, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk pejabat, politisi, bahkan presiden sekalipun, Madilog yang ditulis 66 tahun yang lalu itu masih terlalu canggih dan maju.

Madilog, bagi Tan Malaka, adalah ilmu tentang cara berfikir yang benar. Dasar berfikir yang benar menurut Tan Malaka adalah Materialisme. Kadang-kadang, Tan juga menyebutkannya sebagai Matter. Meskipun dalam bahasa asing dua kata itu punya makna berbeda, tetapi Tan Malaka sebenarnya hanya ingin menyatakan satu hal, yaitu berangkatlah dari kenyataan, alam nyata. Jauhkanlah diri kita sejauh-jauhnya dari dasar berfikir tahayul, mistik, dan teman-temannya.

 Matter, menurut Tan Malaka, bukan sekadar benda yang kasat mata, melainkan segala macam yang besifat nyata. Jika ada orang yang ingin menyeberangi laut dengan perahu atau kapal, maka Matter bukanlah sekadar perahu dan dayung. Namun, pengetahuan tentang ombak, ilmu tentang mata angin, dan kemampuan navigasi juga disebut sebagai matter. Jadi, jika anda ingin melaut, maka bekalilah diri anda dengan perahu, dayung, pengatahuan tentang navigasi dan arah angin serta perlengkapan lainnya. Salah jika anda pergi melaut berbekal, perahu, dayung, jampi-jampi, dan sesajen untuk Nyi Roro Kidul.

Setelah memilih dasar berfkir yang benar, maka gunakanlah metode ilmiah dalam befikir, begitu kira-kira yang diinginkan Tan Malaka. Dalam hal yang sederhana gunakanlah logika dan untuk hal yang lebih rumit gunakanlah pisau dialektka. Dialektika bukan dimaksudkan untuk membatalkan logika, namun sebagai pelengkap pisau analisa, jika logika sudah buntu untuk menjawab sebuah persoalan.

Jika hanya sekadar persoalan lapar, logika sanggup menyelesaikannya. Jawaban bagi orang lapar sangat jelas dan pasti, yaitu isilah perutnya dengan makanan. Tetapi bagaimana cara agar orang tersebut bisa makan dan terbebas dari kelaparan selamanya, logika akan buntu. Kita butuh pisau yang lebih canggih, yaitu dialektika.

Jika ada seorang petani yang memiliki tanah hanya setengah hektar. Hasil tanah itu tidak cukup untuk makan keluarganya selama satu tahun. Meskipun bisa dua atau tiga kali panen dalam setahun, tetap saja tidak mencukupi untuk kebutuhan dasar si petani dan keluarganya. Itu belum termasuk jika ada serangan banjir atau hama. Di banyak daerah di Indonesia, rentenir tumbuh subur di kalangan petani seperti ini. Sampai pada suatu saat si petani tidak lagi sanggup membayar utangnya. Tanah secuil itu pun dijaminkan di atas materai kepada si rentenir.

Karena utang terus berbunga, tanah si Petani tidak lama lagi akan segera disita oleh rentenir. Jika mereka berperkara, pengadilan niscaya memenangkan si rentenir  karena ada bukti perjanjian utang hitam di atas putih. Itulah logika. Dia selesai pada satu titik karena kebenaran versi logika hanya satu.  Tetapi logika tidak menyelesaikan masalah. Si petani dan keluarganya masih harus melanjutkan hidup. Lalu dari mana lagi sumber kehidupan mereka? Si petani tadi akan memambah deretan orang yang akan menjadi masalah sosial bagi pemerintah.

Jika pemimpin di negeri ini tidak memiliki dasar berfikir yang benar, mereka akan memberikan solusi kebahagiaan di akhirat sebagai penghibur jutaan petani yang kehilangan tanahnya. Oleh karena itu, petani-petani di Indonesia senantiasa harus mendekatkan diri kepada yang maha kuasa dan ikhlas menerima cobaan.

Jika pemimpinnya hanya sampai ada kemampuan logika, maka ia akan menyalahkan si petani karena berutang kepada si rentenir. Apalagi sampai ada bukti hitam di atas putih Tetapi, jika pemimpin sudah menguasai dialektika, dia akan sampai pada pertanyaan: Kenapa sampai ada masyarakat yang hanya punya tanah garapan setengah hektar? Kenapa sampai harus ada rentenir sebagai tempat berutang para petani? Lalu apa gunanya pemerintah bagi masyarakat yang semakin lama semakin terpinggirkan? Nah, dari sanalah kita mencari jawaban terhadap persoalan tadi.

Itulah yang disebut dengan Madilog secara sederhana. Kita diajarkan secara runtut mulai dari dasar berfikir sampai dengan pemilihan metode berfikir. Jika ini dilaksanakan, dalam pikiran Tan Malaka, bangsa Indonesia akan terlepas dari selimut kelam kebodohan.

 

NASIB MADILOG

            Tan Malaka, seorang revolusioner tulen tidak bernasib mujur di negeri sendiri. Meskipun mati-matian berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka akhirnya harus tewas dieksekusi oleh tentara berpangkat rendah. Ironisnya, pembunuh Tan Malaka adalah tentara Republik Indonesia, negara yang sudah ia mimpikan sejak menulis brosur ”Menuju Republik Indonesia” tahun 1924. Tan Malaka ditembak mati  21 Februari 1949, di Desa Selo Panggung, di Lereng Gunung Wilis, Kediri.

            Sama seperti nasib tuan pembuatnya, Madilog juga tidak mujur negeri sendiri. Meskipun berupa mahakarya yang didedikasikan untuk rakyat Indonesia, hanya segelintir orang yang pernah membacanya. Madilog lebih sebagai legenda yang dibicarakan dari mulut ke mulut (sama dengan Tan Malaka) namun tidak pernah dibaca dan dipahami secara serius, apalagi untuk diamalkan. Madilog lebih mirip seperti fosil sejarah yang hanya dikagumi di balik etalase museum. Banyak orang yang berdecak kagum terhadap Madilog, tetapi tidak tahu apa itu Madilog selain kepanjangannya.

            Padahal, untuk saat sekarang ini, Madilog masih sangat relevan untuk dipelajari secara serius, tidak hanya untuk mahasiswa filsafat, melainkan seluruh orang yang sudah menempuh pendidikan universitas. Meskipun Tan Malaka membuat Madilog untuk ditujukan kepada masyarakat Indonesia yang sudah menyelesaikan pendidikan dasar, tetapi harus diakui isinya masih terlalu berat untuk dipahami otak kebanyakan  bangsa Indonesia. Apalagi sudah sedemikian lama diselimuti oleh kabut tahayul dan kegaiban.

             Ada ketakutan, jika Madilog dipelajari dan disebarluaskan, akan menggiring bangsa Indonesia untuk menjadi Ateis. Sementara agama dan Tuhan adalah suatu hal yang sangat penting bagi masyarakat kita. Di sinilah letak kelemahan mental kita. Generasi orang tua kita tidak pernah membiasakan otak anak-anak mereka dengan dialektika, termasuk membaca gagasan yang salah satu isinya menegasikan soal ketuhanan.

            Madilog adalah pisau berfikir. Dia tidak hanya bisa digunakan oleh orang yang tidak bertuhan, tetapi oleh siapa saja. Sebab, desain Madilog sudah dibuat sehalus mungkin oleh Tan Malaka untuk tidak membabi-buta menghancurkan agama masyarakat Indonesia. Toh, akhirnya bagi Tan Malaka  agama adalah pilihan hidup yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun, termasuk oleh komunitas dan negara.  Ia benar-benar berdiri sebagai hak individu.

            Yang penting adalah bagaimana cara berfikir yang digunakan. Kita bisa saja tidak harus berdebat soal ontologi tentang asal muasal segala sesuatu.Tapi cukup berangkat dari epistimologi yang benar. Mungkin saja kita seorang penganut metafisika secara ontologi, tetapi secara  epistimologi adalah seorang penganut empirisisme. Sederhananya begini, mungkin saja anda adalah seorang yang taat beragama dan sangat percaya pada keadilan Tuhan. Namun saat anda dizalimi oleh siapapun, termasuk oleh negara, anda tidak melihat itu sebagai cobaan atau kutukan Tuhan. Namun benar-benar sebagai sebuah kezaliman yang harus dilawan. Maka langkah terbaik adalah bergerak melawan ketidakadilan  itu. Anda tidak diam dan menenggelamkan diri sampai larut malam bercengkrama dengan Tuhan agar terlepas dari segala penderitaan.




[1] Tulisan ini dibuat untuk Seminar Tan Malaka yang diadakan di AJB FISIP UI, Kamis 28 Februari 2008. Saya Diminta untuk menjadi pembicara versama Harry A. Poeze, Asviwarman Adam, dan Zulhasril Nasir.

3 comments March 20, 2008

So What Gitu Loh….

Hari Selasa (19/2/200 8) aku diminta oleh sekelompok mahasiswa untuk berbicara pada peringatan hilangnya Tan Malaka yang ke 59. Ya, 59 tahun lalu Tan Malaka dinyatakan hilang. Sampai tahun 2007, para pengikut dan pengagum Tan Malaka, termasuk para sejarawan masih percaya bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 19 Februari 1949 lalu mayatnya dibuang ke Kali Brantas.


Sampai akhirnya, pada pertengahan tahun 2007, Harry A Poeze datang ke Indonesia sambil meluncurkan buku keduanya tentang Tan Malaka (Verguisd en Vergeten). Kalau bahasa kite artinya Dihujat dan Dilupakan. Dalam buku itu, Poeze menyatakan dengan keyakinan 99,99% bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949, di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selo Panggung.

Meskipun tanggal kematian Tan Malaka sudah diketahui, ternyata para pengikut Tan Malaka (khususnya di Jakarta) tahun ini masih melakukan peringatan pada tanggal 19 Februari. Sudahlah, namanya juga kebiasaan setiap tahun. Ya sudahlah. Toh, tidak salah juga. Khan, yang diperingati adalah hari hilangnya Tan Malaka.

Kembali ke soal acara tadi. Ini adalah acara peringatan kedua yang dilakukan di Universitas Indonesia. Peringatan pertama diadakan pada tanggal 19 Februari 2004, di Gedung Pusat Antar Universitas Univesitas Indonesia. Penyelengaranya adalah Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Eka Prasetya Universitas Indonesia. Kebetulan para pengurusnya adalah adik-adikku di HMI UI. Jadi, dalam batasan tertentu, “bisa diarahkan” untuk menyelenggarakan acara ini bekerja sama dengan LPPM Tan Malaka.

Seingatku, beberapa hari (atau sehari?) setelah acara tahun 2004 itu, pengurus KSM dipanggil oleh salah seorang pejabat di Rektorat UI. Mereka diperingatkan agar hati-hati terhadap infiltrasi ideologi tertentu di dalam kampus..hehe..itu paranoid apa guoblok yah?

Ups..ngelantur lagi.. OK deh, balik lagi..sekarang serius cerita tentang acara tadi.

Sebenarnya aku gak terlalu semangat unutk berbicara di forum itu. Pasalnya sederhana. Aku mendengar salah seorang dosen di FISIP UI juga mau mengadakan acara serupa tanggal 28 Februari dengan menghadirkan Poeze, sekembalinya Poeze dari Suliki, Kampung halamannya Tan Malaka. Nah, buat apa ada dua acara yang mirip, dalam waktu berdekatan, dan di kampus yang sama? Toh, yang berminat terhadap Tan Malaka juga cuma itu-itu saja? Tapi dasar orang-orang tua golongan kiri memang suka berpecah-belah (yang muda juga gitu). Mereka memaksa adik-adik mahasiswa untuk terus mengadakan acara ini. Gak mau ngalah sama acara orang lain. Gengsi kalau harus gabung. Seolah-oleh eksistensinya hancur kalau gabung sama acara orang lain. Kaya gerombolan demo aja..susah diajak gabung kalau ketemu di jalan. Padahal isunya sama. Yang jadi persoalan adalah siapa inisiator dan siapa followers..fhhh cape deh…gitu aja kok repot..

Namun, apa boleh buat, ketua panitianya adalah adikku. Dia memang lagi semangat berorganisasi. Gak enak kalau bikin dia patah semangat. Rencananya, Budiman Sudjatmiko., Eros Djarot, dan Ade Daud Nasution (Anggota DPR RI) juga akan jadi pembicara. Hasilnya..cuma Ade Nasution yang hadir. Budiman tiba-tiba sakit flu dan membatalkan kehadiran satu jam sebelum acara. Sementara itu, Eros Djarot tanpa kabar sama sekali. Jadilah aku, Pak Asral (Ketua LPPM), dan Ade Daud Nasution yang jadi pembicara di depan. Lha pertanyaanya kenapa harus aku? Katanya sih biar ada perwakilan orang muda yang pernah menulis tentang Tan Malaka. Yo wis, itung-itung menjajal tingkat percaya diri.

Untunglah ada Ade Nasution. Meskipun ngomongnya agak ngalor-ngidul, teteup wae dia anggota DPR. Acara ini masih ada gengsinya. Orang pasti mau mendengar kalau yang ada di depan adalah orang yang namanya lumayan sering didengar. Lha kita..? Meskipun udah dikonsep matang-matang, teteup kaga ada yang kenal. Ya toh?? He..he ini bentuk ketidak-PeDe-anku saat tampil. Siapa yang mau dengar? Gw..bukan siapa-siapa..gak terkenal..trus ngasih ceramah di depan orang-orang tentang Tan Malaka. Takutnya ntar gw malah disambit pake sepatu…he..he

Sepanjang sesi tanya jawab, ada satu pertanyaan yang membuatku meringis untuk kesekian kalinya. Pertanyaan kaya gini sudah sering aku dapatkan, dan seperti biasa, ada rasa kesal setiap kali menjawab pertanyaan seperti. Inti pertanyaan itu gini,” Bagaimana sih sikap ketuhanan Tan Malaka? Kalau dulu-dulu ada yang bertanya, ”Tan Malaka itu Islam atau Atheis?” Bahkan saat sidang skripsi, pengujiku, yang saat ini sudah jadi Ph.D, juga ngajak berdebat soal keislaman Tan Malaka. Padahal, buatku itu gak relevan sama sekali. Mau Islam atau tidak, itu suka-sukanya Tan Malaka aja.

Sebenarnya, pertanyaan seperti ini bisa dengan mudah dijawab. Tentu saja berdasarkan penilaianku terhadap jalan hidup dan gagasan Tan Malaka. Orang lain bisa saja punya penilaian berbeda. Namun kalau mau utuh dan jujur membaca buku-buku Tan Malaka (terutama MADILOG) niscaya setuju dengan penilaianku…he..he (PeDe amat yah?? please jangan disambit yah…)

Buatku, Tan Malaka sangat mudah untuk diidentifikasi dalam soal Agama dan Tuhan. Tan Malaka adalah materialis sejati. Mistik, dalam bahasa MADILOG disebut mistika, adalah haram. Segala macam mistik, atas nama apa pun juga. Segala yang berbau rohani tidak bisa diterima akal sehat. Dan mistika terbesar bagi umat manusia adalah Tuhan. Tan Malaka berfikir seperti itu.

Coba baca halaman-halaman awal Madilog. Ada cerita tentang Dewa Ra dari Mesir saat menciptakan alam semesta. Sekali berucap “Ptah” maka Dewa Ra berhasil menciptkan Sungai Nil, hamparan padang pasir, dan alam semesta, termasuk makhluk hidup di dalamnya. Pada halaman berikutnya, habislah cerita Dewa Ra ini dicela oleh Tan Malaka berdasarkan hukum-hukum físika dan kimia. Meskipun bukan ahlinya, Tan Malaka bersemangat sekali membantah kejadian alam semesta seperti dalam cerita Dewa Ra tadi.

Nah, mari akal sehat kita diajak berfikir sedikit. But, jangan sentimen dulu! Kalau Dewa Ra itu diganti dengan “Allah” dan “Ptah” itu kita ganti dengan “Kun Fa Yakun”..apa yang ada dalam kepala anda? Kalau MADILOG memang ingin dijadikan sebagai senjata berfikir bangsa Indonesia, lalu apa arti penjabaran Tan Malaka di atas? Buat apa dia susah-susah harus membongkar kepercayaan mendasar bangsa Indonesia tentang ketuhanan? Jawabannya, karena materialisme, menurut Tan Malaka, ádalah dasar berfikir yang benar. Tidak ada tempat untuk metafísika (Tan Malaka menganggapnya sama dengan idealisme). Yakinlah bahwa Tan Malaka menggunakan Dewa Ra hanya sebagai siasat. Sebab, jika langsung dengan menyebut Allah, umat akan terjauhkan dari semangat revolusi.

Banyak orang yang mengatakan bahwa Tan Malaka itu Islam. Mereka memberikan alasan bahwa Tan Malaka adalah pembela gerakan Pan Islami di Timur Tengah dalam sidang Komintern tahun 1922. Lalu Tan Malaka juga memuji-muji Islam dalam Islam Dalam Tinjauan MADILOG sebagai salah satu Bab MADILOG. Ada juga cerita tentang Tan Malaka yang selalu menangis ketika Ibunya dulu bercerita tentang kisah para nabi. Menurut orang-orang (termasuk beberapa orang yang bergelar Master dan Ph. D) itu adalah tanda –tanda bahwa Tan Malaka adalah seorang penganut Islam. Kasian…sepertinya mereka hanya baca beberapa buku dan itu pun tidak tuntas.

Nah inilah pangkal bala dari pertanyaan soal agama dan sikap ketuhanan Tan Malaka. Pertanyaan tentang agama Tan Malaka bukan pertanyaan yang bebas nilai. Ia adalah pertanyaan yang nantinya akan bersangkut paut dengan penilaian terhadap gagasan Tan Malaka. Jika dia Islam, maka dia harus dikagumi dan dijadikan idola. Sementara itu, seandainya dia ternyata ateis, maka Tan Malaka harus dihujat dan disalahkan. Pemikirannya bisa dianggap jahat dan berbahaya

Benar bahwa Tan Malaka sangat dekat dengan kelompok Islam. Benar pula Tan Malaka berasal dari keluarga yang taat beragama. Bahkan, bapaknya adalah orang tarekat. Benar pula bahwa Tan Malaka mengagumi Muhammad , Isa , dan Musa. Terakhir, juga benar bahwa Tan Malaka tidak konfrontataif terhadap agama sebagaimana kaum kiri lainnya.

Semua pernyataan benar di atas tentu tidak dapat dijadikan kesimpulan bahwa Tan Malaka adalah seorang Islam. Ada pula Doktor yang menyebutnya Islam Kiri atau Kiri Islam. Di sinilah letak kekeliruan itu.

Harus dipahami, saat itu Tan Malaka melihat bahwa bangsa-bangsa Islam di Asia sebagai faktor revolusi untuk mengusir imperialis-kapitalis Eropa dan Jepang. Ini logis dalam cara berfikir dia. Kalau di Indonesia, revolusi meninggalkan atau memusuhi kalangan Islam, revolusinya pasti gagal karena kekurangan syarat dukungan. Bagaimana mungkin bagian terbesar dari sebuah bangsa tidak dijadikan faktor revolusi? Dalam tulisannya yang lain Tan Malaka yakin seyakin-yakinnya bahwa suatu saat faktor revolusi yang belum jadi kiri akan menjadi kiri dengan sendirinya, setelah merasakan manfaat dari sebuah negara revolusi yang dikendalikan oleh kelas pekerja.

Soal Islam dalam Tinjauan Madilog dan kekagumannya terhadap para nabi adalah soal yang wajar. Harus diingat Islam dalam Tinjauan Madilog tidak satu patah kata pun membenarkan Islam. Hanya saja, dia mengagumi Muhammad sebagi seorang pembebas. Nah, kalau para penemu berhak meberi nama temuannya sesuka hati? Kenapa Muhammad tidak boleh memberi nama ajaran barunya (temuannya) dengan nama Islam (Keselamatan)? Harus diakui bahwa Muhammad adalah manusia paling besar sepanjang sejarah umat manusia. Namun, kekaguman Tan Malaka terhadap para nabi hanya sebatas kapasitas mereka sebagai manusia, bukan dalam konteks wahyu yang dianggap mistik dan tidak masuk akal oleh MADILOG. Baca beberapa Bab dalam Buku dari Penjara ke Penjara tentang pandangan hidup, ada juga di beberapa tulisan atau brosur lain..saat Tan Malaka menjelaskan tentang asal-usul agama menurut pandangannya. Ujung kesimpulan Tan Malaka adalah bahwa agama itu muncul hanya sebagai buah ketakutan manusia.

Problem konklusi kita adalah menganggap orang yang simpati terhadap Islam sebagai orang Islam. Kalau begitu kita harus kerepotan untuk mengidentifikasi Annie Schimmel dan Karen Amsptrong..he..he

Itu pula yang dilekatkan terhadap Tan Malaka. Lagi pula, sebagian besar di antara kita, termasuk intelektual bergelar Doktor, masih sangat terikat dengan sentimen primordial seperti agama dan etnis. Ada stereotipe khusus yang dilekatkan kepada golongan tertentu. Jika Tan Malaka adalah Minangkabau dan Islam..wah..luar biasa tokoh ini. Namun, jika dia ateis…phhh…turun deh nilainya. Bisa-bisa malah dibenci.

Inilah yang disebutkan oleh Tan Malaka sebagai salah satu kesalahan dalam berfikir. Namanya Ignoratio Elenchi. Bahasa kitanya.”.kaga ada relevansinya Bung!”. Penilaian terhadap Tan Malaka akhirnya harus disangkut pautkan dengan privasinya. Yang dilihat bukan lagi benar atau tidaknya, bagus atau jeleknya gagasan Tan Malaka, tetapi lebih banyak tentang identitas ke-Islaman Tan. Akhirnya yang digugat bukan lagi soal gagasan, tetapi soal agamanya. Karena dia ateis..maka gagasan Tan Malaka adalah salah dan jahat..he..he ngaco khan silogismenya?

Contoh sederhananya begini. Anda tidak percaya dengan saya karena hidung saya panjang dan bengkok. Jadi apapun gagasan saya sudah salah seketika anda tahu bentuk hidung saya. Geblek khan?? Nah gitu juga biasanya kalau orang nanya-nanya soal agama Tan Malaka. Tan Malaka jadi seketika menadi tokoh antagonis kalau harus dikatakan tidak beragama. Orang-orang itu maunya begini, setidaknya mereka tidak harus merasa berdosa mengagumi Tan, jika Tan Beragama Islam..

So, buat anda pengagum Tan Malaka, terima sajalah kalau beliau adalah ateis sejati. Cuma dia juga tidak ingin begitu saja meniadakan agama. Agama adalah urusan pribadi, tidak boleh dicampuri oleh negara maupun oleh kelompok. Kalaupun muncul persekutuan pada agama-agama tertentu., biarkan saja, tetapi negara tidak boleh turut campur, termasuk membiayainya…Ini bukan berarti dia beragama, melainkan paham kondisi sosial Indonesia. Berbeda dengan kiri lainnya yang selalu ngajak orang-orang beragama berantem. Kalau pegangan hidup yang benar, menurut Tan Malaka mah teteup wae tanpa ada mistik-mistikan…termasuk mistik tentang Dewa dan Tuhan..

Salam,

7 comments February 20, 2008

Presiden Tidak Harus “Orang Jakarta”

Banyak pengamat mengeluhkan nama-nama kandidat yang beredar untuk pemilihan presiden 2009 nanti. Sebab, seluruhnya masih berkutat pada nama-nama lama. Mereka adalah orang-orang yang pernah menjadi the ruling elite negeri ini. Namun selama berkuasa, mereka tidak membawa perbaikan berarti.

Jumlah kanddidat presiden sangat terbatas dan nama yang muncul itu-itu lagi. Bila sepuluh jari kita mainkan, niscaya tidak akan habis untuk menyebutkan nama mereka satu per satu. Sebut saja nama seperti SBY, Megawati, Amien Rais, Wiranto, Sutiyoso, Jusuf Kalla. Mungkin juga muncul nama seperti Sri Sultan dari Yogya sana. Tokoh ini berasal dari daerah dan terkesan agak ”segar” dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang pernah eksis di Jakarta. Hanya saja, Sultan ini tidak cocok hidup di alam demokrasi. Sulit mengharapkan dia muncuk sebagai pemimpin yang demokratis, inovatif, dan penuh terobosan. Dia tetap datang dengan mewaikili cara berfikir lama, raja jawa yang naik tahta ke tingkat nasional. Soeharto pun selama kepemimpinannya juga memosisikan diri menjadi raja jawa.

Lalau kenapa hal itu bisa sampai terjadi? Kenapa nama-nama yang akan meramaikan bursa presiden hanya itu-itu saja, seolah-olah lebih dari 200 juta lebih rakyat Indonesia hanya menghasilkan kurang dari 10 orang yang layak jadi presiden? Lebih parah lagi, tidak ada dari kandidat tersebut yang pernah sukses memperbaiki tata kelola pemerintahan dan juga kualitas hidup masyarakat. Jika salah satunya terpilih menjadi presiden hanya akan melanjutkan siklus penderitaan rakyat dari mulut buaya ke mulut harimau, masuk ke mulut ular, lalu ke mulutnya Tukul.. (he..he sorry kul!)

Setidaknya dua hal yang menyebabkan hal ini terjadi. Faktor pertama adalah proses politik Indonesia masih terlalu berpusat di Jakarta. Politisi atau pemimpin yang dianggap handal hanya orang-orang yang sudah berhasil eksis menaklukkan Jakarta. Akibatnya, terminologi ”tokoh nasional” dan ”tokoh lokal” itu sangat jelas membekas di kepala kita. Ini sangat bias. Pencarian kandidat presiden akhirnya hanya terpusat pada lingkaran ”tokoh nasional” tadi.

Penyebab kedua adalah kelanjutan dari faktor pertama. Ini soal publikasi media. Oleh karena kita menganggap subyek proses politik nasional hanyalah aktor-aktor di Jakarta, pemberitaan atau publikasi media yang mencitrakan tokoh tokoh politik juga hanya berputar di Jakarta. Silahkan periksa pemberitaan media nasional maupun lokal, pasti hanya memasukkan ”tokoh nasional” sebagai calon presiden. Akhirnya, partai maupun masyarakat awam termakan konstruksi pemberitaan. Alam pikiran mereka juga hanya menangkap bahwa hanya orang Jakarta yang berhak jadi presiden.

Padahal, banyak best practices kepemimpinan dan pemerintahan di daerah yang sangat baik. Praktek kepemimpinan tersebut bisa dijadikan isnpirasi untuk diterapkan di daerah lain, bahkan juga bisa dijadikan inspirasi untuk diterapkan di tingkat nasional. Ada belasan kepala daerah di tingkat kabupaaten/kota, dan dua kepala daerah di tingkat provinsi yang bisa dikatakan sukses. Mereka tidak hanya berhasil menjalankan tata kelola pemerintahan yang baik tetapi juga sukses meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.

Media dan juga para akademisi perlu didorong untuk ikut mempublikasikan tokoh-tokoh yang berhasil di daerahnya. Ini berguna agar masyarakat dan partai sadar bahwa banyak potensi pemimpin berkualitas di daerah-daerah. Mereka tidak lagi sekadar berjanji tetapi sudah menyajikan bukti. Kepemimipinan orang-orang yang dianggap tokoh lokal itu sudah terbukti mampu memperbaiki tata kelola pemerintahan dan juga memperbaiki kehidupan masyarakat. Bukan tidak mungkin mereka mampu mencobanya di tingkat nasional. Peluang maju menjadi presiden/wakil presiden harus dibuka lebar bagi para gubernur yang sukses.

Orang–orang seperti mereka seharusnya di masa depan secara berjenjang menaiki karir kepemimpinan sampai di level kepemimpinan nasional. Tidak berlebihan jika rakyat Indonesia kemudian bermimpi, suatu saat yang berlaga dalam pemilihan presiden adalah para gubernur terpilih. Dengan demikian, calon presiden adalah orang yang sudah teruji. Suskesi kepemimpinan nasional akan lebih segar. Bukan hanya kemudian mempertontonkan elite-elite tua Jakarta berbagi giliran memegang tampuk kekuasaan tertinggi.

2 comments September 15, 2007

Membaca Ulang Tentang Lenin (Resensi Buku)

 Ada sebuah buku menarik (tahun terbitnya 2004, wah dah lama juga..he..he)  yang sebenarnya menantang para peminat pemikiran kiri untuk berdiskusi lebih lanjut tentang marxisme secara umum atau komunis-Leninisme secara khusus. Buku tersebut tidak terlalu tebal, dan bisa ditamatkan dalam satu hari. Bahasanya sederhana dan mudah dicerna namun tetap punya bobot yang signifikan. Oleh penulisnya, buku tersebut diberi judul “Lenin, Revolusi Oktober 1917”. Di bawah judul tersebut terselip beberapa kalimat yang dicetak tidak begitu besar “Sanggahan Terhadap Pemikiran Romo Magnis”. Mungkin yang dimaksud adalah sanggahan terhadap tulisan Magnis tentang Lenin yang berjudul “Dalam Bayangan Lenin”. Oleh karena ketidaksepakatan dengan beberapa pendapat dalam tulisan Magnis tersebut, maka di dalam buku ini ditambahkan sebuah BAB khusus sebagai pertimbangan bagi Romo Magnis.

Anak judul  buku di atas memang terkesan terlalu provokatif. Meski memang tidak sedramatis itu, namun memang dua orang penulis muda tersebut telah malakukan pembelaan terhadap Lenin dan melakukan sebuah debat dengan tulisan yang pernah ditulis oleh Romo Magnis. Namun, tidak ada yang salah dari hal tersebut. Bahkan justru memacu para peminat studi pemikiran dan filsafat untuk membaca dan berdiskusi lebih banyak lagi.

Buku yang ditulis oleh dua orang muda yang sebenarnya belatar belakang pergerakan Islam (Eko Prasetyo berasal dari HMI dan Saiful Arif berasal dari PMII) mungkin bisa cukup obyektif dalam menganalisa seorang tokoh komunis seperti Lenin. Bagaimanapun umat Islam di Indonesia pernah memiliki trauma besar terhadap gerakan komunis, namun kejujuran intelektual tentu tidak bisa disingkirkan hanya gara-gara dendam masa lalu. Lenin, sebuah sosok yang pernah menggemparkan dunia, namun menurut keduanya, telah disalahpahami banyak orang bahkan oleh pakar sekelas Romo Magnis. Dalam rangka meletakkan bandul analisa pada posisi yang setimbang (adil), maka dua orang muda tersebut menyatukan kekuatan dan fikiran untuk menulis sebuah buku, khususnya dalam menghadapi perdebatan intelektual dengan Romo Magnis.

 

Lenin, Aktifitas dan Pemikirannya

Lenin adalah orang yang pertama kali melakukan praksis terhadap teori-teori Marx. Ia adalah pembentuk sekaligus pencetus sebuah negara yang diakuinya sebagai perwujudan dari teori Marx yang murni. “Ajaran Marx yang murni” adalah klaim dari Lenin dalam bukunya Negara Dan Revolusi. Lenin mengungkapkan bahwa perkembangan gerakan sosialis telah memunculkan elemen yang ia sebut sebagai sosialis-chauvisnis dan kaum oportunis yang mendominasi di dalam partai-partai sosialis resmi. Mereka yang dituding sebagai tokoh sosialis chauvinis dan kaum oportunis adalah Plekhanov, Potresov, Breshkovskaya, Rubanovic dan kaum Fabian di Inggris. Orang yang paling bertanggungjawab terhadap munculnya kaum “menyimpang” itu adalah pendiri Internasionale II yaitu Karl Kautsky. Lenin mengaku bahwa yang dibawa oleh dirinya adalah yang mendekati benar dan lurus.

Lenin lahir di kota Simbrisk pada tahun 1870 atau satu tahun sebelum terjadinya pemerintahan eksperimen Komune Paris. Nama kecilnya adalah Valdimir Ilyich Ulyanov, namun dalam pelarian dan pembuangan ia lebih sering menyebut nama sebagai Lenin. Ia merupakan keturunan kelas menengah Rusia. Ibunya seorang ahli bedah sementara ayahnya adalah seorang direktur sekolah umum di Simbrisk. Lenin menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Kazan atas rekomendasi dari Feodor Karensky, ayah dari Alexander Karensky, perdana menteri pemerintahan revolusi Menshevik yang dikemudian hari digulingkan oleh Lenin melalui Revolusi Oktober 1917.

Karir aktivis Lenin sudah dimulai sejak masa kuliah. Ia terinspirasi oleh kakaknya, Alexander Ulyanov, aktivis Narodnaya Volya yang kemudian tewas secara tragis pada usia muda. Alexander merupakan kakak sekaligus idola bagi Lenin. Ia dijatuhi hukuman mati pada usia 19 tahun oleh pemerintahan Tsar karena Narodnaya Volya adalah sebuah seksi teroris yang merencanakan pembunuhan terhadap Tsar.

Lenin kuliah di universitas Kazan tidak sampai satu tahun. Ia dari awal sudah terlibat menjadi aktivis demonstrasi yang menentang Tsar. Ia kemudian ditangkap dan diasingkan di sebuah desa terpencil. Ia dikeluarkan dari universitas Kazan dan akhirnya harus melanjutkan kuliah di universitas St. Petersburg. Tahun 1891 Lenin lulus sebagai sarjana Hukum.

Lenin mengorganisir gerakan marxis pertama kali di kota Samara. Tahun 1893 ia pindah ke St. Petesburg dan diangkat menjadi pemimpin gerakan marxis di kota tersebut. Selama karir aktivisnya, Lenin banyak menghasilkan tulisan, baik itu berupa terjemahan terhadap tulisan Marx dan Engels, maupun hasil berfikirnya sendiri terhadap keadaan revolusi dan perjuangan kaum marxis di Rusia. Begitu banyaknya tulisan yang dihasilkan Lenin dikarenakan keyakinannya bahwa sebuah revolusi hanya bisa lahir dari teori-teori revolusi.

Lenin naik memegang tampuk pimpinan negara Rusia setelah pada bulan Oktober 1917 ia berhasil menggulingkan pemerintahan sosial demokrat pimpinan Karensky. Lenin dengan kelompok Bolsheviknya berhasil menumbangkan golongan Menshevik yang pada awalnya merupakan rekan satu perjuangan dalam revolusi 1905.

Sebelum melakukan revolusi Oktober, Lenin telah menyelesaikan karyanya dalam pembuangan yaitu Negara Dan Revolusi (State And Revolution). Buku ini adalah pengembangan gagasan Marx yang menjadi panduan praksis dalam membangun negara komunis. Jika ingin membahas negara seperti yang diinginkan Lenin, maka buku inilah yang menjadi referensi utama.

Secara filosofis, Lenin adalah pengikut setia Marx. Lenin adalah orang yang juga melihat negara sebagai negara kekuasaan. Negara adalah organ kekuasaan kelas atas. Pada saat ia hidup, negara diterjemahkan sebagai perwujudan kekuasaan kelas feodal dan kelas borjuis terhadap kelas tani dan pekerja. Meskipun negara dianggap sebagai organ penindas bagi kelas bawah, namun Lenin tidak pernah bercita-cita untuk melenyapkan negara, karena sesuai dengan doktrin Marx, negara tidak bisa dilenyapkan. Negara akan tetap ada selama masih terdapat pertentangan kelas. Negara hanya bisa melenyap dengan sendirinya ketika kondisi sudah disiapkan sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak lagi butuh negara. Berdasarkan filosofi tersebut, maka yang dilakukan oleh Lenin adalah menyiapkan sebuah kondisi dimana masyarakat masuk ke dalam tahapan lepas dari kontradiksi kelas sehingga lambat laun negara kehilangan relevansinya.

Masyarakat bisa terlepas dari kontradiksi kelas dengan cara memaksakan kekuasaan kelas proletar atas kelas borjuasi. Diktatur proletariat dilaksanakan dalam rangka memaksa masyarakat untuk hidup dalam satu kelas saja yaitu kelas proletar. Dengan demikian pertentangan antar kelas dapat dilenyapkan. Dan selama proses diktatur proletariat, eksistensi negara tetap dibutuhkan sebagai sarana untuk menyiapkan masyarakat masuk ke dalam tahapan komunisme.

Bentuk negara yang tetap dipakai pada masa sosialisme adalah negara yang benar-benar menghilangkan sifat negara borjuasi. Belajar dari komune paris, Lenin berfikir bahwa semua suprastruktur borjuasi harus dilenyapkan, karena kalau tidak dilakukan akan memberikan kesempatan bagi kaum borjuasi mengorganisir diri dan bangkit kembali melawan kekuasaan proletariat.

Oleh sebab itu, negara yang digagas oleh Lenin adalah negara yang menghilangkan dua ciri utama negara borjuasi, yaitu parlemen dan tentara reguler. Parlemen dihilangkan karena hanya menjadi tempat orang berbicara namun tidak bekerja. Mereka adalah kelas penganggur yang harus dibiayai oleh negara. Pemisahan kekuasaan antara legislatif dan esekutif dalam negara berjuis menyebabkan terjadinya kepincangan antara pembuat kebijakan dengan pelaksana kebijakan. Adanya parlemen juga mengakibatkan munculnya elit kekuasaan yang terpisah dari masayarakat.

Tentara reguler juga harus diganti dengan milisi rakyat atau rakyat yang bersenjata. Tentara reguler berbahaya karena kemudian bisa menjadi alat bagi kaum yang memiliki harta, kekayaan ataupun modal, sehingga bisa diperalat untuk membela kepentiangan kaum yang memiliki uang.

Oleh karena harus mendirikan sebuah negara yang menghilangkan sifat borjuasi, maka di sinilah letak peran Lenin dalam memeras otak memikirkan wujud nyata sebuah negara yang bisa menghilangkan sifat kemodalan. Pada titik ini Lenin melangkah maju mencoba menurunkan teori Marx yang sarat dengan prinsip-prinsip umum menjadi lebih praktis.

Yang pertama kali dilakukan oleh Lenin setelah memegang tampuk kepemimpinan revolusi adalah membubarkan birokrasi, parlemen dan tentara reguler. Pemerintahan dan parlemen digantikan oleh kongres rakyat dan tentara reguler digantikan oleh tentara merah yang merupakan milisi bersenjata dari rakyat pekerja.

Lenin tetap memegang prinsip demokrasi secara umum dimana ia tidak menghilangkan sistem perwakilan dan pemilihan. Hanya saja wujud lembaganya sangat berbeda dari wujud lembaga demokrasi yang lazim ditemukan di negara liberal. Parlemen dan birokrasi dibubarkan supaya tidak ada bermacam-macam partai yang kemudian memecah masyarakat ke dalam berbagai kekuatan politik. Kekuatan politik hanya satu, yaitu organisasi partai komunis.

Pemilihan dan perwakilan dilakukan dalam organisasi. Masyarakat membentuk pemerintahan sendiri dalam kongres-kongres rakyat (soviet). Kongres rakyat ini dimulai dari tingkat paling bawah sampai ke tingkat negara. Dalam kongres rakyat inilah diatur segala program dan solusi bagi permasalahan rakyat. Di arena ini mereka berdiskusi dan berdebat, namun harus patuh pada setiap hasil keputusan kongres baik yang diperoleh secara aklamasi maupun secara voting. Di dalam kongres pula kemudian dipilih beberapa orang wakil rakyat yang akan duduk di komite eksekutif atau komite sentral sebagai pelaksana harian kongres guna mengurus jalannya program pemenuhan kebutuhan masyarakat. Anggota komite sentral atau komite eksekutif adalah bagian dari masyarakat pekerja, dan tidak terlepas dari masyarakat. Mereka tidak punya jabatan khusus yang kemudian memisahkan mereka dari masyarakat. Mereka setiap saat dapat diganti ketika masyarakat sudah tidak setuju lagi. Para anggota komite sentral maupun komite eksekutif hanya memperoleh gaji tidak lebih dari gaji seorang buruh terampil, dan dengan demikian mereka tetap hidup membaur dengan masyarakat pekerja.

Meskipun mengklaim diri sebagai pelaksana gagasan Marx yang murni, namun sesungguhnya Lenin telah melakukan beberapa hal yang berbeda dari ajaran Marx. Pertama, Lenin menjalankan revolusi di negara Russia yang belum mencapai puncak industrialisasi seperti Inggris dan Jerman. Lenin menunjukkan, ramalan Marx bahwa revolusi proletar pertama kali akan meletus di Eropa Barat justru bisa terjadi di negara yang masih muda industrinya. Ketika Inggris dan Jerman sudah menjadi negara yang bersandar sepenuhnya terhadap kapital, pada saat yang sama kelas feodal agraris di Rusia justru masih cukup kuat. Ini dapat dikatakan sebagai adaptasi gagasan Marx dalam konteks keadaan sosial dan keadaan produksi Rusia.

Kedua, Marx hanya menyatakan bahwa revolusi tersebut dilakukan oleh satu kelas yaitu proletar yang terdiri dari pekerja industri. Lenin, sesuai dengan kondisi Rusia, meletakan revolusi di pundak kelas tani dan pekerja yang kemudian diidentifikasi sebagai proletar. Ini sangat berbeda dengan Marx yang menganggap bahwa Rusia dengan keadaannya yang masih kental dengan sektor agraris sebagai daerah paling reaksioner pada saat itu.

Dengan keadaan yang berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh Marx, maka jalan revolusi Lenin juga agak berbeda hasilnya. Ketika sebuah diktatur proletariat harus menumpas kelas borjuasi dan kelas lain yang berbeda dari kelas proletar, maka Lenin waktu itu harus realistis. Berada dalam kepungan negara kapitalis, mau tidak mau Rusia juga harus memacu kemajuan industrinya agar tidak terjepit oleh tekanan kapital dan industri luar negeri. Untuk membangun ekonominya, Lenin terpaksa membiarkan sebagian sektor ekonomi kembali dikuasai oleh individu-individu kaya serta kembali mempekerjakan tenaga ahli dengan bayaran besar.

 

Kelemahan dan Kelebihan Buku Ini.

Buku ini ditulis oleh dua orang. Sepertinya memang ditulis secara terpisah oleh dua orang tersebut. Ketika membaca BAB IV pembaca akan segera dapat merasakan gaya bahasa dan penulisan yang berbeda dari BAB sebelumnya. Oleh sebab itu maka wajar bila terdapat beberapa pengulangan informasi yang barangali tidak diperlukan.

Bagi orang yang sudah sering membaca literatur kiri ataupun sejarah tentang Russia, mungkin tidak banyak informasi baru mengenai Lenin yang didapatkan dalam buku ini. Sebagian besar dari BAB buku tersebut membicarakan sejarah dan, pemikiran dan beberapa tindakan Lenin yang sudah lazim diketahui. Hanya saja, buku tersebut kemudian berupaya medudukkannya pada konteks zaman dimana Lenin berada dan menghindari mengukurnya dari ukuran-ukuran zaman sekarang.

Buku ini kemudian memiliki nilai tambah yang besar ketika mereka memasukkan BAB V perihal melihat Lenin secara lebih adil. Keseluruhan isi BAB ini merupakan perdebatan dengan buku Romo Magnis. Sepertinya BAB ini dibuat lebih belakangan dari Bab lainnya, karena dari bahasa dan bobot isinya jauh berbeda. Dalam Bab ini kita akan hanyut oleh sebuah perdebatan dan dengan argumentasi yang sangat bagus bagi ukuran penulis muda. Sinergi antara kedua penulis terasa dalam BAB ini untuk menghadapi argumentasi Magnis terhadap tokoh Lenin. Kedua penulis mencoba meluruskan jurus zigzag Magnis yang memuji lenin dalam satu halaman tertentu namun kemudian menjatuhkannya pada beberapa halaman lainnya. Walaupun berbeda “kesaktian” dalam hal gelar akademik, namun tulisan dalam buku ini sungguh bisa membuat Romo Magnis maupun orang lain mengkaji ulang pendapatnya terhadap Lenin. Kecuali, bagi orang-orang yang sudah beku akalnya, sehingga enggan mendialektikaan sebuah gagasan.

Jika dibaca, meski oleh orang yang fanatik dengan agama sekalipun, niscaya buku ini tidak merusak bagi siapapun. Toh, tidak ada seruan untuk mengikuti atau provokasi untuk membenci tokoh seperti Lenin dan ajaran komunis secara umum.

4 comments August 26, 2007

Jendral Susi

Raut wajah Jendral Susi berubah drastis ketika para penari cakelele mengibarkan bendera RMS pada peringatan Harganas di Maluku. Muka Jendaral Susi berubah menjadi tegang. Jelas sekali ada api kemarahan di balik air mukanya. Wah, Jendral Susi sepertinya marah betul. Paspampres abis itu pada diapain yah? Digebukin satu-satu? he..he..mungkin saja.

Ngomong-ngomong soal raut wajah seperti itu, saya jadi ingat kejadian sekitar Agustus 2005 (atau mungkin September 2005?), pokoknya sekitar bulan itu lah. Baru sekitar satu bulan saya bertugas di Cirebon. Ketika itu Jendral Susi lagi berkunjung ke Cirebon.

Saat pertemuan di Gedung Bakorwil Cirebon, tiba-tiba seorang ibu menerobos masuk dan memeluk kaki Jendral Susi sambil berteriak histeris. Ibu-ibu ini mungkin memang ada kelainan jiwa. Sebab, menurut beberapa orang yang ada di Bakorwil , Si Ibu biasa seperti itu jika ada pejabat dari Jakarta yang datang. Entah benar entah tidak, tetapi selama hampir setahun saya bertugas sebagai wartawan Kompas di Wilayah III Jabar (Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka), hanya Jendral Susi yang mengalami nasib seperti itu.

Saat sang ibu itu histeris memeluk kaki Susi, raut wajah seperti pada peringatan Harganas itu juga saya lihat lagi, meski hanya di televisi. Jendral Susi tampil dengan ekspresi tegang, kaku, tak bergerak sama sekali, dan sangat jelas kalau dia marah. Meskipun, kemudian Paspampres dengan cepat menggotong sang ibu keluar dari arena acara, tetapi kentara sekali SBY marah besar. Efeknya sangat terasa ketika Susi hadir dalam pementasan tari di Gua Sunyaragi, malam harinya. Seluruh Paspampres over acting di ring satu. Wartawan dipersulit untuk masuk, apalagi yang tidak menggunakan baju batik. Padahal, pas siangnya di Gedung Bakorwil kaga ada kaya gituan. Seorang teman kontributor stasiun TV malah diinjak kakinya oleh Paspampres. Gara-garanya dia memakai sepatu sport. Biasa wartawan Pantura, mana ada yang punya sepatu kulit..he..he. Kasihan, padahal teman ini dah bela-belain pulang untuk ganti baju dengan batik. Tetapi lupa ganti sepatu (apa ga punya?) dengan sepatu kulit. Lagian Paspampres iseng banget. Di tengah remang-remang seperti itu, mereka sempat2nya mendeteksi sepatu sport yang digunakan oleh teman tadi.

Bukan cuma itu. Besok paginya, Jendral susi bekunjung ke Gedung Linggarjati, Kuningan. Dia adalah presiden kedua yang mengunjungi gedung bersejarah itu setelah Soeakarno. Saat di Lingarjati, tidak hanya Paspampres yang over acting, tentara dari Kodim Kuningan yang menjaga ring II pun over acting sehingga saya sempat sulit untuk masuk. Setelah negosiasi dengan seorang perwira Kodim (tentu saja plus memperlihatkan ID Kompas), akhirnya saya diberikan ID card untuk meliput di dalam Gedung Linggarjati.

Meskipun sudah mengantongi ID Card dari Kodim, tetapi kemudian saya mengalami nasib yang tidak akan saya lupakan seumur hidup. Saya diseret paksa keluar Gedung Lingarjati oleh Paspampres. Gara-garanya saya meliput dengan mengenakan celana jeans dan sepatu sport. Sebenarnya memang saya sengaja seperti itu. Lagian ini bentuk protes. Jika orang yang bisa berada di dekat presiden hanya yang menggunakan baju batik, celana kain, dan sepatu kulit. Lah kalau rakyat yang kaga punya bagaimana? Apakah rakyat kecil harus memanipulasi keadaan mereka dengan memaksakan diri (beli atau minjam) agar bisa menggunakan baju batik, celana kain dan sepatu kulit? Dasar presiden keterlaluan. Kalau setiap hari yg lu lihat orang-orang yang berpenampilan rapi dan necis, pantesan aja lu kaga pernah sadar penderitaan masyarakat yg sebenarnya.

Walau sudah bersiasat di gedung Linggarjati, akhirnya saya ketahuan juga oleh Paspampres. Setelah diseret keluar, perwira yang tadi memberikan ID card juga sok marah. Dengan kasar dia merenggut ID dari leher saya. Lha tadi kok dikasih sama saya, padahal pakaian saya sama aja. Dasar t____l!

Wah..jadi ngelantur ke mana-mana. Kembali ke soal Jendral Susi, saya rasa pengamanan terhadap dia terlalu berlebihan. Sudahlah terlalu berlebihan, tetap aja berkali-kali ada masyarakat yang berusaha membuat dia malu. Bandingkan dengan pengamanan terhadap MJK, jauh lebih longgar, tetapi kaga dibikin malu tuh ama masyarakat.

Saya tidak merasa bendera RMS kemaren adalah sebuah ancaman, toh bendera Brazil, Argentina, Italia dll juga sering dipajang di Indonesia saat Piala Dunia. Saya justru melihat itu hanya tamparan khusus buat Jendral Susi. Itu pertanda bahwa Jendral ini sama sekali tidak disegani oleh masyarakat bahkan juga bawahannya. Mungkin juga itu hanya momentum pembuka untuk unjuk gigi gerakan yang lebih nyata seperti OPM di Papua. Buktinya, yang kemudian lebih berani dan terang-terangan muncul adalah OPM. Untung Jendral Susi tidak hadir pada Konferensi Dewan Adat Papua. He..he.. Kasihan Jendral Susi

Jaka sembung bawa golok

Maap, ga nyambung, gw lg goblok!!!he..he

Add comment July 7, 2007

Didikte oleh Lalat

lalat.jpgIni soal DCA (Defense Cooperation Agreement). Mungkin agak terlambat, tetapi saya tidak tahan juga untuk menyimpan unek-unek ini. Bahkan, unek-uneknya sudah jadi jerawat dua biji..he..he (secara medis bener ga yah unek-unek bisa jadi jerawat?)

Saya baru tahu bahwa DCA itu dibuat sebagai balas jasa karena Singapura mengabulkan keinginan Indonesia untuk membuat perjanjian ektradisi (wah kemana aja nih…?). Menyedihkan sekali negeri ini. Apakah harga perjanjian ektradisi semahal itu? Bukankah kewajiban sebuah negara untuk membantu menangkap penjahat yang kabur dari negara lain , sekalipun tanpa perjanjian ekstradisi? Lagi pula, Singapura khan salah satu tempat menyimpan uang. Lha apa negara lain nanti tidak takut kalo para bandit, koruptor, dan para pencuci uang semua kabur ke Singapura karena di sana aman? Singapura sendiri bakal kesulitan berhadapan negara lain bukan? Lalu kenapa harus dibalas dengan perjanjian kerjasama pertahanan? Ini kekonyolan pertama.
Kekonyolan kedua itu terkait dengan isi perjajian pertahanan. Sudahlah asal muasal perjanjian konyol, isinya juga konyol. Negara kita harus menyediakan empat (kalau ga salah empat yah) lokasi untuk latihan perang tentara Singapura. Wah enak banget negara kecil ini. Namun, mereka menolak adanya Implementation Agreement (IA) mengenai pelaksanaan latihan itu. Singapura berpendapa IA tidak perlu, sementara TNI bilang perlu. Lha kok bisa salah paham kaya gini? Kalau tidak ada IA itu berarti mereka menolak diatur ketika melakukan latihan militer di wilayah kita. Ah, ini namanya ngelunjak. Kalau bahasa kampung saya; “Gadang Karengkang”.

OK-lah, dari sisi mereka, dalam diplomasi tidak ada yang salah dengan tawar-menawar. Singapura pun punya hak untuk kasih penawaran sekehendak hati mereka. Masalahnya ada pada kita. Kenapa kita hanya diam menangapi ini. Kenapa hanya segelintir orang di DPR yang ribut? Kenapa pula pemerintah tidak ribut? Siapa biang keladi yang menyebabkan perjanjian konyol seperti ini sampai ditandatangani? Untung di DPR kita yang norak itu ada yang teriak-teriak. Kali ini, apa pun kepentingan anggota DPR itu, teriakan mereka dalam posisi yang benar. Kalau hanya untuk mengejar aset para koruptor (yg konon 600 T) kita harus mengobankan teritori kita, wah itu nanti dulu lah. Tunggu lebaran monyet aja.

Ini dunia yang sudah serba canggih. Di samping teknologi, spionase dan konspirasi pun sangat canggih. Apa kita bisa percaya, bahwa kapal-kapal perang asing yang masuk perairan Indonesia semata-mata untuk berkunjung atau latihan perang? Kita terlalu bodoh untuk mempercayai sebatas itu. Mereka punya alat yang serba canggih untuk memindai sumber daya laut kita dari dekat. Jadi istilahnya, mereka bisa mengonfirmasi data temuan satelit dengan memindai dari jarak dekat. DCA memberi kesempatan untuk itu. Seharusnya, kapal perang asing (AS sekalipun) harus diperikasa dulu sebelum masuk wilayah pertahanan kita, meski alasannya hanya sekadar mampir atau untuk latihan bersama.

Ini benar-benar konspiratif. Namun, jika hari gini kita masih berfikir lurus-lurus saja , hanya pake logika tetapi menafikkan dialektika, kita akan digilas zaman. Segala tindakan negara pasti dilatarbelakangi kepentingan nasional mereka.Dan kepentingan nasional bisa saja digerakkan oleh pemerintah atau modal yang menguasai negara bersangkutan. Maka, dalam hal ini, benturan atau pun pertemuan kepentingan antarnegara harus benar-benar dioptimalkan dalam sebuah proses tawar-menawar. Diplomasi adalah salah satu jalan untuk itu. Embargo, boikot, protes, kecaman, kutukan, bahkan invasi adalah bentuk lain dari proses benturan kepentingan antarnegara.

Kembali soal Singapura tadi. Konyol sekali para diplomat kita ini. Apakah gaji mereka terlalu kecil sehinga bisa dibeli oleh bangsa lain? Ataukah mereka terlalu bodoh sehinga berdiplomasi saja ga beres?

Kalau mau diukur-ukur, Singapura itu hanya ibarat lalat yang hinggap di puncak hidung kita. Idealnya, lalat itu bisa kita tabok kapan saja. Tetapi yang ajaib di Indonesia, justru kita yang didikte oleh lalat itu. Mungkin dia sudah hinggap di puncak hidung kita sambil menancapkan super-microchip yang kemudian digunakan untuk mendikte gerak langkah kita. Huh, bangsa ini sungguh menyedihkan.

Dan mereka berani seperti itu bukan tanpa perhitungan. Pertama, mereka sudah perhitungkan bahwa Indonesia ini miskin dan bodoh, sehingga senjata materi dan sedikit lobi bisa sudah cukup untuk menaklukkan kita. Kedua, Singapura yakin ada negara kuat yang akan bediri di belakang mereka. Jika suatu saat ada apa-apa, mereka tidak akan diganggu, karena Indonesia takut dengan “sang pelindung Singapura”.

Kadang-kadang ada mimpi iseng yang muncul di kepala saya. Saya bermimpi suatu saat kita punya kerjasama pemipaan gas atau minyak langsung ke Singapura. Jika pipa itu sudah tersambung, dan penyakit congkak mereka kambuh lagi, pipa itu tidak lagi kita isi dengan minyak atau gas. Saya punya mimpi menyalurkan urine seluruh penduduk Indonesia ke Singapura. Mungkin dalam beberapa hari mereka bisa kita tenggelamkan dengan damai tanpa muntahan peluru satu butir pun. Ya, namanya juga mimpi.

Add comment June 22, 2007

Hari yang mendebarkan

tan-malaka.jpg Tanggal 20 Juli 2007, Harry Poeze, Direktur Penerbitan KITLV, penulis biografi Tan Malaka, akan ke Jakarta. Tujuannya adalah meluncurkan buku terbarunya tentang riwayat hidup Tan Malaka 1945-1949. Buku tersebut terdiri dari tiga jilid dengan jumlah halaman total 2.200 halaman dalam bahasa Belanda, gak tau deh jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Biasanya, kedatangan Poeze pasti akan disambut hangat, terutama oleh para pengikut dan pengagum Tan Malaka. Tapi saya berdebar-debar untuk kunjungan kali ini. Sebab isi buku terakhir ini akan membuka banyak hal. Ada yang melegakan dan ada pula yang mengkhawatirkan.

Dia akan membuka proses kematian Tan Malaka dan juga nama pembunuhnya. Poeze memang selalu merahasiakan ini, terutama tentang nama pembunuh Tan Malaka. Dia hanya pernah memberikan petunjuk bahwa orang itu pernah menjadi Walikota Surabaya pada tahun 1970-an. Meskipun pada awalnya agak ragu dengan kesimpulan itu, tetapi waktu pertemuan dengan saya bulan Januari lalu, dia sepertinya kembali yakin bahwa orang itulah orangnya.

Satu misteri sejarah Indonesia akhirnya terkuak. Akan ada beberapa perubahan penulisan sejarah setelah ini. Tetapi masih ada beberapa misteri kematian dan hilangnya pahlawan yang belum terungkap seperti Supriyadi dan Otto Iskandardinata. Semoga nanti juga akan ada yang berhasil menelusurinya. Hanya saja ada kesedihan juga, kenapa harus seorang Poeze, orang yang berasal dari negeri penjajah yang peduli dan berhasil menemukan jawaban misteri kematian Tan Malaka? Sedih..

Sebagai seorang pengagum Tan Malaka, saya sangat senang dengan terbitnya buku Poeze. Saya percaya dengan integritas beliau. Saya pernah mendampingi beliau waktu riset di Indonesia tahun 2004, dan dari sana saya yakin apa yang ditulisnya sebagai fakta adalah benar-benar temuan yang bisa dikonfirmasi.

Hanya saja, buku itu juga menakutkan. Sebab, Poeze dengan blak-blakan menyatakan bahwa Tan Malaka pernah diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia menggantikan Soekarno. Peristiwa itu terjadi setelah Sokarno, Hatta, dan Syahrir ditangkap Belanda pada Agresi Militer II. Tan yang waktu ada di Jawa timur, dengan segala keterbatasan informasi, diangkat oleh sebagian laskar sebagai peresiden berdasarkan Proklamasi 1945 dan UUD 1945. Tan menaggap bahwa terjadi kekosongan kekuasaan pascapenangkapan para petinggi republik di Jogja.

Bukankah tindakan itu bisa disebut sebagai pemberontakan? Atau kudeta terhadap kepemimpinan yang sah? Saya khawatir, nanti akan ada gerakan untuk menggugat kepahlawanan Tan Malaka. Bukan hanya sekadar soal status kepahlawanan, tetapi juga dalam soal penulisan sejarah. Saya khawatir justru karena ini kemudian eksekusi lapangan oleh seorang kroco Surachmat terhadap Tan Malaka kemudian diangap wajar dan benar. Sehingga penembakan itu kemudian bisa saja dianggap sebagi ekskusi terhadap pengkhianat, bukan sebagai sebuah tragedi terhadap seorang penjuang.

Ada beberapa pegikut Tan Malaka yang juga sangat khawatir dengan hal ini. Tetapi saya, sebagi seorang akademisi berusaha untuk menerima akhir hidup Tan Malaka yang amat tragis. Ya, memang sangat tragis, bukan hanya karena dia dieksekusi tanpa prosedur hukum, tetapi juga karena alur logika pembaca sejarah juga akan digiring untuk berfikir,” toh wajar pelaku kudeta dihukum oleh pemerintahan yang sah”.

Jujur, saya belum membaca buku Poeze itu. Cerita ini saya peroleh dari email-email Poeze. beberpa minggu terakhir. Semoga kekhawatiran ini tidak menjadi kenyataan. Jantung saya akan senantiasa berdebar, menunggu peluncuran buku itu di Indonesia. Tan Malaka, pilihan hidupmu penuh tragedi. Jangan-jangan setelah mati pun namamu tidak akan pernah ditulis dengan manis, melainkan  tetap dengan tragis. Jangan-jangan pembaca sejarah nantinya akan menganggapmu sebagai oportunis dan ambisius.

“dari ribuan pejuang republik ini, aku menempatkanmu pada puncaknya”

5 comments June 19, 2007

Sumpah Pemuda yang Mulai Terlupakan

Oleh Heppy Ratna Sari *

www.indomedia.com/poskup/2006/11/15/edisi15/1511hal02.pdf

ifk_sumpah_pemuda.jpg
SUMPAH Pemuda telah berusia 78 tahun. Meski masih

diperingati setiap tahun, semakin lama generasi muda semakin

acuh dengan peristiwa bersejarah ini.

Hanya beberapa kelompok saja, seperti pegawai pemerintah,

politikus, sejarawan, negarawan dan sejumlah orang yang masih

mengingat sejarah itu dengan baik yang masih

melakukan upacara peringatan perjuangan pemuda itu.

Gelora Sumpah Pemuda sepertinya mulai

menghilang di hati sebagian generasi muda Indonesia saat

ini. Mereka tidak hanya lupa kapan peristiwa itu terjadi,

tetapi juga isi dari sumpah yang mempersatukan bangsa

Indonesia tersebut.

Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, generasi muda

Jakarta seakan tidak lagi mempedulikan makna Sumpah

Pemuda. Mereka disibukkan dengan berbagai aktifitas

hiburan seperti berbelanja, bermain di pusat-pusat

permainan atau sekedar duduk-duduk dan bersenda

gurau di gerai-gerai makanan.

“Hari ini hari Sabtu, sudah jadi langganan bagi kami

berenam untuk jalan-jalan di kafe atau sekadar

memuaskan nafsu ‘lapar mata’,” kata Winda, seorang

siswi SMU negeri di Jakarta.

Ia bahkan sempat berpikir sejenak ketika mengingat

tanggal hari ini (28/10). “OK, ini tanggal 28 Oktober, apa

ada yang aneh. Ini kan akhir Minggu dan saat ini masih

libur sekolah,” katanya sambil meninggikan alisnya.

Setelah berpikir sejenak, gadis berkacamata ini akhirnya

menyadari makna tanggal 28 Oktober.

“Oh iya, hari inikanperingatan Sumpah Pemuda.

Kita lupa, maklum karena liburan sekolah jadi tidak ingat.

Biasanya, kalau di sekolah selalu ada guru yang

mengingatkan untuk melakukan upacara,” ujarnya

sambil membenahi posisi duduknya.

Baginya, peringatan Sumpah Pemuda adalah sebuah

rutinitas tahunan. Ia hanya memaknainya tak lebih hanya sebagai

sebuah peringatan saja. “Sumpah Pemuda kan sudah diajarkan

dalam mata pelajaran sejarah. Jujur, saya pribadi merasa tidak

terbebani dengan adanya Sumpah Pemuda. Itu kandulu, kalau

sekarang sudah berbeda. Jadi kalau ditanya apa masih peduli,

susah juga menjawabnya,” katanya.

Lebih dari setengah abad peringatan hari di mana

diikrarkannya pengakuan bertumpah darah yang satu, tanah

Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia dan

menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Namun, kini

ikrar tersebut hanya menjadi wacana yang harus dihafal oleh

sebagian generasi muda.

Namun, setiap individu memiliki hak untuk memaknai

Sumpah Pemuda. Bagi Winda, Sumpah Pemuda hanyalah sebuah

peringatan kenegaraan yang wajib dilakukan, tetapi bagi seorang

pekerja seni Tommy Kurniawan, ini adalah sebuah momen-

tum bagi generasi muda untuk mawas diri.

“Generasi muda saat ini sebenarnya cukup solid, rasa

persaudaraannya dan kepedulian yang tinggi. Hanya saja me-

reka memanfaatkannya untuk kegiatan yang mereka suka dan

tidak diarahkan untuk kegiatan yang bersifat sosial,” ujarnya.

Ia mengatakan sebagian generasi muda saat ini

cenderung acuh tak acuh terhadap kondisi sosial negara dan

memiliki nasionalisme yang kurang.

“Saya rasa masih bisa diarahkan, karena sebenarnya

mereka adalah anak-anak yang baik dan berpotensi. Hanya

saja wadah untuk kegiatan mereka lebih banyak untuk

bersenang-senang,” kata artis yang lahir di tahun 1984 ini.

Bukan hal yang tidak mungkin bagi generasi muda saat ini

untuk kembali memiliki semangat nasionalisme yang tinggi,

katanya.

Tinggal sejarah

Bagi penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka,

Hasan Nasbi, kaum muda merupakan bagian dari kultur

dunia yang saat ini dikendalikan oleh konsumsi dan hiburan.

Mungkin selebriti sudah menjadi salah satu kiblat figur kaum

muda saat ini. Jika demikian, sulit menghalangi mereka untuk

tidak meniru dan melakukan imitasi, katanya

“Menurut saya, jangan-jangan menjadi ganteng atau cantik,

terkenal, banyak uang, banyak penggemar, dan nongol di teve

adalah idealitas kaum muda saat ini. Setiap varian hidup

sebenarnya sah-sah saja. Namun, seperti kata Muhammad,

manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi

manusia lain,” katanya.

Ia berpendapat kondisi kaum muda saat ini mengece-

wakan. Menurut dia, sebagian besar kaum muda adalah para

pengikut arus zaman yang setia. “Apapun arus zaman, maka

sebagian besar gerbongnya diisi kaum muda, tanpa peduli

arus itu membawa kebaikan atau tidak. Sebagian besar

kaum muda mengalami apa yang disebut sebagai ‘poverty

of philosphy’, miskin filsafat hidup. Jangan-jangan ini karena

kita juga tidak terbiasa belajar filsafat,” kata pria yang suka

menulis sejak SMA ini.

Ia membenarkan jika semangat Sumpah Pemuda di

hati generasi muda hampir mati. Secara pribadi ia mengakui

tidak lagi merasakan semangat Sumpah Pemuda.

“Padahal saya adalah pembaca dan peminat sejarah

Indonesia. Bagaimana dengan pemuda yang tidak membaca

sejarah? Mungkin mereka akan lebih jauh lagi dari spirit

Sumpah Pemuda. Atau jangan-jangan juga tidak tahu butir-

butir kesepakatan pemuda waktu itu?,” katanya.

Sumpah Pemuda adalah sebuah prestasi gemilang

anak-anak muda Hindia Belanda saat itu, katanya. Pada

masa itu, seluruh pelaku Sumpah Pemuda adalah aktivis

pergerakan. Namun saat ini, aktivis pergerakan tidak lagi

berfikir untuk Indonesia.

“Mereka ‘menjual’ gerakan untuk karir politik dan

sudah pula membiasakan diri dengan kotornya kehidupan

para politisi senior. Pola ‘patron-client’ dalam kehidupan aktifis

pergerakan telah membunuh semangat kaum muda untuk

berfikir tentang Indonesia,” kata pria yang pernah bekerja sebagai

sekretaris penulis buku biografi Tan Malaka, Dr. Harry Poeze.

Ia juga mengatakan sulit membayangkan aktivis muda saat

ini berkumpul dan membahas tentang ke-Indonesiaan dan

merencanakan sesuatu untuk Indonesia. Mungkin Sumpah

Pemuda benar-benar telah menjadi sejarah. Ia tinggal dalam

catatan dan buku pelajaran.

“Indikatornya gampang. Saat Indonesia terkoyak oleh

disintegrasi sosial seperti di konflik di Poso, dan disintegrasi

nasional seperti di Aceh dan Papua, kemana para pemuda kita?

Pemuda kita (termasuk saya) berkutat untuk hidup, menjadi

sukses, kaya, dan punya kehidupan pribadi bahagia,” katanya. ***

* Penulis, wartawan Kantor Berita Antara

4 comments June 19, 2007

Previous Posts


Data Pribadi Empunya Blog

Hi, Nama saya Hasan Nasbi A Asal Sumatera Barat Lulusan Ilmu Politik UI Pernah bekerja sebagai Wartawan Kompas (2005-2006) Sejak 2006-sekarang bekerja sebagai peneliti di Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia. Saat ini, sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk penelitian terutama survey pra-Pilkada di berbagai provinsi dan kabupaten/kota. Saya sangat suka dengan bacaan bertema kiri, Amerika Latin, Timur Tengah, Konspirasi, dan Pemikiran Politik. Blog ini bukan dimaksudkan untuk menyajikan tulisan yang ilmiah dan teoritis. Blog ini hanya sekadar tempat melepaskan unek-unek agar tidak muncul menjadi jerawat. Makanya, jangan heran jika sering ditulis dengan bahasa sinis, ketus, atau bahkan marah-marah. Kritik dan komentar anda sekalian adalah sumbangan berharga bagi saya.

Blog Stats

Calendar

July 2008
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Recent Posts

Links

Recent Comments

mangkuprit on MARI BELAJAR MADILOG![1]
dwi arie wibowo on MARI BELAJAR MADILOG![1]
mangkuprit on Membaca Ulang Tentang Lenin (R…
Saiful on Membaca Ulang Tentang Lenin (R…
Saiful on Membaca Ulang Tentang Lenin (R…

dodol

More Photos